Puisi Rakyat
Puisi Rakyat atau sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan. Beberapa jenis puisi rakyat yang terkenal di Indonesia adalah syair, gurindam, dan pantun.
1. Syair
Syair adalah puisi rakyat yang biasanya berisi kisah atau cerita yang disajikan dengan rima dan irama yang khas. Syair biasanya terdiri dari beberapa bait, dan setiap baitnya terdiri dari beberapa baris. Contoh syair yang terkenal di Indonesia adalah Syair Abdul Muluk dan Syair Raja Siak.
Contoh Syair Abdul Muluk:
```
Lima belas tahunlah umurku
Masih hijau belum layu
Masih tetap bersekolahku
Belajar mengaji kitab suci
```
Struktur syair terdiri dari beberapa bait, setiap bait terdiri dari beberapa baris. Syair memiliki rima akhir pada setiap barisnya dan mengikuti pola irama yang berbeda-beda tergantung pada jenis syairnya.
2. Gurindam
Gurindam adalah puisi rakyat yang berisi nasihat atau petuah. Gurindam biasanya berisi nilai-nilai moral atau ajaran agama yang disajikan dengan bahasa yang sederhana namun berkesan. Contoh gurindam yang terkenal di Indonesia adalah Gurindam 12 Pasal karya Raja Ali Haji.
Contoh Gurindam 12 Pasal:
```
Budi pekerti harus dipelihara
Sopan santun harus dijaga
Akal budi harus dijaga
Harta bendakah yang sejati
```
Struktur gurindam terdiri dari beberapa bait, setiap bait terdiri dari beberapa baris. Gurindam tidak memiliki pola rima yang baku, namun mengikuti pola irama tertentu.
3. Pantun
Pantun adalah puisi rakyat yang terdiri dari empat baris. Setiap baris pada pantun terdiri dari 8-12 suku kata, dan pada baris kedua dan keempat berisi pantun jawab atau balasan. Pantun biasanya mengandung makna yang menghibur atau bernasihat.
Contoh Pantun:
```
Buah cempedak di luar pagar
Ambil galah tolong jolokkan
Saya budak baru belajar
Kalau salah tolong di betulkan
```
Struktur pantun terdiri dari dua bait, yaitu bait pertama dan bait kedua. Setiap bait terdiri dari dua baris. Baris pertama pada bait pertama menjadi pengantar atau judul, dan baris kedua menjadi jawaban atau pantun balasan. Pantun memiliki pola rima a-b-a-b.
Puisi Baru atau Puisi yang Tidak Terikat
Puisi baru atau puisi yang tidak terikat adalah jenis puisi yang tidak terikat pada aturan atau pola yang baku. Puisi ini mengutamakan kebebasan dalam pengekspresian dan memberikan ruang kreatifitas yang lebih luas bagi penyair.
Struktur pada puisi baru atau puisi yang tidak terikat biasanya tidak terikat pada aturan tertentu. Namun, struktur ini masih mengikuti dasar puisi.
prinsip sastra, yaitu penggunaan bahasa yang indah dan memiliki makna mendalam. Puisi baru juga sering mengandung metafora dan simbol yang dapat diartikan secara beragam oleh pembaca.
Contoh Puisi Baru:
```
Rintik hujan jatuh membasahi tanah
Menyentuh rindu yang kian dalam
Kau yang jauh di sana
Dalam ingatan yang kian terasa
```
Pada puisi baru ini, tidak terdapat pola rima atau irama baku. Namun, penggunaan bahasa yang indah dan makna mendalam menjadi ciri khas dari puisi baru.
Struktur Pantun
Struktur pantun terdiri dari empat baris dengan pola rima a-b-a-b dan pada baris kedua dan keempat terdapat pantun jawab atau balasan. Setiap baris pada pantun terdiri dari 8-12 suku kata, dan pada baris kedua dan keempat berisi pantun jawab atau balasan.
Contoh Struktur Pantun:
```
Baris 1 (pengantar/judul)
Baris 2 (jawaban/pantun balasan)
Baris 3 (pengantar/judul)
Baris 4 (jawaban/pantun balasan)
```
Cara Membuat Pantun
Berikut adalah cara membuat pantun:
1. Tentukan tema atau topik yang akan diangkat pada pantun.
2. Pilih kata-kata yang tepat dan mudah diingat.
3. Buatlah pengantar pada baris pertama.
4. Buatlah pantun jawab atau balasan pada baris kedua dan keempat dengan mengikuti pola rima a-b-a-b.
5. Periksa kembali pantun yang telah dibuat, pastikan pantun memiliki makna yang jelas dan mudah dipahami.
Dalam membuat pantun, perlu diperhatikan juga unsur-unsur penting seperti makna yang ingin disampaikan dan pemilihan kata yang tepat agar pantun dapat memberikan kesan yang mendalam bagi pembaca atau pendengar.
Komentar
Posting Komentar